KABAR47 Kabar Harian Terkini, Kabar Seputar Indonesia


Jelasbola Jelaspoker

PBNU Minta Pemerintah Cabut Kebijakan Sekolah 8 Jam sehari

PBNU Minta Pemerintah Cabut Kebijakan Sekolah 8 Jam sehari

PBNU Minta Pemerintah Cabut Kebijakan Sekolah 8 Jam sehari

KABAR47.COM – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menolak berlakunya kebijakan pendidikan lima hari sekolah dengan durasi delapan jam setiap harinya.

Sebab, kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy tersebut dianggap telah membuat masyarakat resah.

“Mengingat tingginya gejolak serta keresahan yang terjadi di masyarakat, maka dengan ini PBNU meminta kepada Presiden untuk mencabut (membatalkan) kebijakan lima hari sekolah (Full Day School),” ujar Ketua PBNU, Said Aqil Siroj dalam konferensi pers di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2017).

Kebijakan masuk sekolah 8 jam yang akan diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menuai pro dan kontra. Presiden Jokowi akhirnya meminta Mendikbud Muhadjir Effendy mengkaji kembali program tersebut.

jelaspoker

“Kemarin kita sudah diskusi dengan Mendikbud, Mensesneg, karena diminta oleh Presiden untuk mengkaji hal tersebut. Tapi untuk lebih detailnya tanya ke Mendikbud deh,” kata Seskab Pramono Anung di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat.

Mendikbud sebelumnya juga sudah beberapa kali menjelaskan mengenai program tersebut. Dia juga meminta kepada pihak yang mengkritik untuk membaca Permendikbud yang mengatur soal kebijakan ini.

“Memang tentunya pemerintah juga menangkap apa yang menjadi keresahan yang terjadi. Tapi lebih baik semuanya mempelajari, membaca sebelum memberikan komentar,” imbuh Seskab.

Sementara itu, Mendikbud membahasakan kebijakan ini sebagai Program Penguatan Karakter (PPK). Meski waktunya 8 jam, namun tak melulu bersifat klasikal saja. Kegiatan positif siswa di sekolah masuk dalam jam tersebut dengan guru sebagai pengawasnya.

Dari sisi tenaga pengajar, hal ini juga memenuhi standar waktu kerja Aparatur Sipil Negara sebanyak 40 jam per minggu. Berdasar pada kebijakan ini maka kegiatan sekolah bisa libur pada hari Sabtu dan Minggu.

Kebanyakan dari mereka justru berkerja sebagai petani atau nelayan. Dalam kegiatannya sehari-hari banyak berinteraksi dengan anak-anaknya.

Dengan diterapkannya kebijakan full day school, dikhawatirkan menghilangkan kuantitas interaksi antara orangtua dan anak-anaknya.

Said mengatakan, PBNU menilai bahwa untuk meningkatkan karakter seorang anak tidak harus menambahkan waktu belajar di sekolah.

Sebab juga ada cara lain, yakni dengan bersosialisasi dengan lingkungannya.

“Interaksi sosial peserta didik dengan lingkungan tempat tinggalnya juga bagian dari proses pendidikan karakter, sehingga mereka tidak tercerabut dari nilai-nilai adat, tradisi, dan kebiasaan yang sudah berkembang selama ini,” ucap Said.

Selain itu, PBNU juga menganggap tidak tepat alasan penerapan full day scholl agar anak-anak tidak mengalami kesepian lantaran menunggu orang tua pulang bekerja.

“Jawaban ini beranjak dari realitas masyarakat urban dan perkataan. Asusmsi ini berasal dari pemahaman yang keliru bahwa seluruh orang tua siswa adalah pekerja kantoran,” ucap Said.

“Padahal, jumlah masyarakat perkotaan hanyalah sejumput saja. Sisanya adalah mereka yang bekerja di sektor informal seperti petani, pedagang, nelayan dan lain sebagainya,” tambah dia.

“Daftarkan segera diri anda bersama kami di jelasbola, proses daftar-deposit-withdraw yang mudah dan cepat 24 jam, hanya dengan deposit 50 ribu saja anda sudah bisa bergabung bersama JELASBOLA Agen Judi Online Terpercaya”

JELASBOLA POSTING BANNER

Silahkan Hubungi Costumer Service JELASBOLA
Kami Siap Membantu Anda 24 jam non-stop.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!